Beranda Sport Menganulir Gol yang Sah, Akankah Shaun Evans Dihukum?

Menganulir Gol yang Sah, Akankah Shaun Evans Dihukum?

26
0
BERBAGI


Kinerja wasit yang memimpin pertandingan Liga 1 Indonesia 2017 kembali mendapatkan sorotan. Wasit asal Australia, Evans Shaun Robert, kini menjadi sosok yang terus disoroti setelah kepemimpinannya dianggap kurang memuaskan kala memimpin jalannya pertandingan antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung di Stadion Manahan, Solo, Jumat (3/11) kemarin.

Keputusan kontroversial yang paling mencolok dari Evans pada pertandingan tersebut adalah saat menganulir gol yang diciptakan penyerang Persib, Ezechiel N’douassel pada menit 27. Pada saat itu N’Douassel berhasil menyambut umpan silang Supardi Nasir dan sundulan pemain asal Chad itu sudah jelas masuk ke gawang Persija, sebelum bola kembali diempaskan keluar oleh kiper Macan Kemayoran, Andritany Ardhiyasa. Tapi wasit memiliki pandangan lain, dan memutuskan bahwa tidak ada gol yang terjadi.

Para pemain Persib sempat melancarkan protes, Wasit Evans juga sempat melakukan diskusi dengan asistennya kala itu. Keputusan akhir wasit adalah bola hasil sundulan Ezechiel belum merobek jala gawang Persija, meski tampak dalam tayangan video bahwa bola sudah menyentuh jala gawang bagian atas.

“Saya bicara jujur dan jelas, kita kalau kalah murni pasti terima. Tapi kalian bisa lihat, dan saya punya data, tadi saya lihat jaring gawang sudah goyang, bola sudah masuk ke gawang,” Kata Manajer Persib, Umuh Muchtar seusai pertandingan.

Selain gol yang dianulir, kubu Persib juga mengaku tidak puas dengan beberapa keputusan Wasit Evans dalam pertandingan tersebut, seperti pelanggaran berbuah penalti untuk Persija dan hukuman kartu merah yang diberikan kepada Vladimir Vujovic pada menit 83. Evans juga menganggap Persib mundur dari pertandingan karena setelah kartu merah yang diberikan kepada Vladimir, semua pemain Persib, termasuk kiper Deden Natshir, berbondong-bondong ke depan bench pemain.

Evans menganggap bahwa para pemain Persib berniat untuk tidak melanjutkan pertandingan. Beberapa saat kemudian, wasit yang pernah memimpin pertandingan di Liga Super Tiongkok itu pun langsung meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Saat itu laga dihentikan pada menit 83 dengan skor 1-0 untuk keunggulan Persija.

“Selain itu, mohon maaf harus saya katakan bahwa tadi juga penalti yang diberikan untuk Persija agak membingungkan. Terlihat Purwaka itu duel fifty-fifty dengan Bruno Lopes. Saya tidak mengerti dengan kepemimpinan wasit asal Australia ini,” sambung Umuh.

Mengejutkan melihat kinerja Evans yang begitu mendapat sorotan di laga Persija melawan Persib. Sebab, meski di Australia ia dikenal sebagai wasit kontroversial, rekam jejaknya selama memimpin pertandingan di Liga 1 terbilang cukup baik. Ia merupakan wasit asing pertama di Liga 1. Debutnya adalah memimpin laga antara Persib Bandung melawan PS TNI di Stadion Si Jalak Harupat, 5 Agustus lalu.

Pada saat itu kepemimpinan Evans bahkan menuai pujian dari Herrie Setyawan yang saat itu menjadi caretaker Persib dan Ivan Kolev yang kala itu masih menjadi pelatih PS TNI. Keduanya sama-sama memuji ketegasan Evans dalam pertandingan yang berakhir dengan 3-1 untuk kemenangan Persib itu.

Selain pertandingan Persib melawan PS TNI, pada periode Agustus tercatat, ada tiga laga lain yang dipimpin Evans seperti Sriwijaya FC melawan Semen Padang pada 11 Agustus yang berkesudahan dengan skor 0-0, dan Bali United melawan Madura United pada 13 Agustus lalu yang berakhir dengan skor 5-2 untuk kemenangan Bali United.

Melihat kinerja Evans yang cukup baik dalam tiga pertandingan tersebut, wasit berusia 30 tahun itu pun kembali dipercaya PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi sepakbola Indonesia untuk memimpin serangkaian pertandingan pada termin November ini.

Pertandingan pertama yang dipimpin Evans di debutnya pada termin November ini adalah laga antara Persija melawan Persib, yang berakhir dengan kekecewaan dari tim tamu karena beberapa keputusannya yang dianggap kontroversial.

Tidak salah juga bila kubu Persib merasa tidak puas dengan kinerja Evans. Namun keputusan benar atau salahnya kepemimpinan Evans di laga tersebut adalah wewenang dari Komisi Disiplin PSSI. “Kita akan bikin surat dan melakukan protes keras, terkait kinerja buruk wasit asal Australia itu dalam pertandingan melawan Persija. Kita seharusnya mendapatkan gol yang sah, tapi malah tidak di sahkan,” lanjut Umuh.

Akankah Nasib Evans Berakhir Seperti Bonyadifard Mooud?

Polemik soal kepemimpinan wasit asing yang menuai kontroversi sebenarnya bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya kepemimpinan wasit asal Iran, Bonyadifard Mooud, saat bertugas di laga antara Persija melawan PSM Makassar di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, 15 Agustus lalu pun menuai ketidakpuasan dari kubu PSM. Tim berjuluk Juku Eja itu merasa dirugikan setelah gol Willem Jan Pluim pada menit 82 dianulir.

Bonyadifard menganggap bahwa sebelum melepaskan tembakan yang akhirnya mengoyak gawang Persija, Pluim telah terlebih dahulu melakukan pelanggaran handball saat mengontrol bola. Melihat tayangan ulang, gol yang dicetak Pluim seharusnya sah. Sebab, ketika melakukan kontrol bola, tidak ada kontak tangan. Bola mengenai paha kemudian memantul ke perut sebelum akhirnya jatuh dan langsung ditendang Pluim.

Sempat ada protes yang dilakukan oleh pelatih PSM, Robert Rene Alberts. Namun karena protesnya dianggap berlebihan, ia pun di usir dari lapangan. Pertandingan tetap berlanjut, dan skor 2-2 pun menjadi hasil akhir pertandingan. Merasa telah dirugikan, PSM pun mengajukan nota protes kepada PSSI.

Federasi Sepakbola Indonesia itu pun langsung merespon protes tersebut. PSSI menyatakan siap menindak tegas Bonyadifard bila wasit asal Iran itu terbukti melakukan kesalahan. Sanksi paling tegas yang akan diberikan adalah dengan memulangkan wasit tersebut dan tidak akan menggunakannya kembali.

Baca juga: Saat Kepemimpinan Wasit Asing Menuai Kritikan Keras

Setelah kejadian tersebut, Bonyadifard sebenarnya masih memimpin pertandingan di Liga 1. Namun hanya satu laga saja yang dipimpinnya, saat itu ia memimpin pertandingan antara Bhayangkara FC melawan Sriwijaya FC di Stadion Patriot yang berlangsung pada 20 Agustus lalu. Namun setelahnya Bonyadifard tidak pernah terlihat lagi memimpin jalannya pertandingan di Liga 1 hingga memasuki pekan ke-33 ini.

Kalau melihat runutannya, sepertinya Bonyadifard memang tidak lagi digunakan untuk memimpin pertandingan di Liga 1. Bila benar hal itu terjadi, maka kejadian yang menimpa Bonyadifard mungkin juga bisa dialami oleh Evans bila protes yang diajukan Persib direspons dan dalam penyelidikan yang dilakukan PSSI, Evans dinyatakan melakukan kesalahan.

Upaya dalam Menanggulangi Permasalahan Wasit

Sebenarnya, agak disayangkan kalau kinerja wasit asing yang memimpin pertandingan di sepakbola Indonesia juga tak lepas dari keputusan kontroversial. Mengingat bahwa penggunaan wasit asing merupakan salah satu upaya yang dilakukan PSSI untuk meningkatkan kualitas kompetisi sepakbola Indonesia.

Tapi yang perlu diingat juga bahwa permasalahan kinerja wasit di sepakbola Indonesia ibaratnya penyakit tahunan yang selalu muncul. Setiap musimnya selalu saja ada kejadian atau kasus yang melibatkan kinerja wasit di sepakbola Indonesia.

PSSI sebenarnya tidak tinggal diam untuk mengatasi masalah tersebut. Federasi sepakbola Indonesia itu pun selalu melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas wasit di sepakbola Indonesia, salah satunya dengan penggunaan wasit asing yang ternyata masih menimbulkan polemik.

Jauh sebelum penggunaan wasit asing, tepatnya sebelum kompetisi bergulir, PSSI menggelar Referee Development Program dengan mendatangkan langsung dua instruktur FIFA. Program tersebut bisa dibilang sebagai pembekalan bagi para wasit yang ditugaskan memimpin pertandingan di kompetisi.

Pada kenyataannya dengan program tersebut kinerja wasit belum juga lepas dari sorotan. Tapi, PSSI terus berupaya untuk memperbaiki kinerja wasit salah satunya dengan memberi sanksi tegas kepada pengadil pertandingan yang kinerjanya mendapatkan kritikan. Pada Mei lalu, ada 18 wasit (8 wasit dan 10 asisten wasit) dari Liga 1 dan Liga 2 yang diberhentikan sementara.

Sanksi tegas kepada wasit kurang berkualitas pun terus berlanjut, pada bulan Juli lalu Komdis PSSI juga menghukum empat wasit dari Liga 1 dan satu wasit dari Liga 2 karena dianggap melakukan kesalahan saat bertugas. Namun tidak disebutkan dengan detail identitas dan kesalahan yang dibuat oleh wasit-wasit yang dihukum tersebut.

***

Kita sebagai penonton bisa dengan mudahnya menilai mana wasit buruk dan mana wasit yang bagus. Tapi untuk wasit sendiri, buruk atau tidaknya kepemimpinan sang wasit tergantung putusan Komisi Disiplin. Hal ini berlaku juga di liga manapun.

Untuk Evans, menganulir gol Persib jelas keputusan keliru yang harus ia pertanggungjawabkan. Sekarang tinggal bagaimana Komdis memandang insiden tersebut. Termasuk keputusan-keputusan lainnya, paling utama saat menghentikan pertandingan di menit ke-83 laga antara Persija-Persib.

Komdis menghukum wasit kurang berkualitas di Liga 1 dengan mendegradasi ke Liga 2 atau mengistirahatkan sementara waktu. Apakah Evans, jika terbukti dinyatakan bersalah, akan dipulangkan ke negaranya (rasanya tidak mungkin didegradasi ke Liga 2)? Kita nantikan putusan Komdis dalam waktu dekat.



Source link