Beranda Sport Mencekal Suporter Brutal di Sepak Bola Indonesia

Mencekal Suporter Brutal di Sepak Bola Indonesia

38
0
BERBAGI

[ad_1]

Kebrutalan suporter sepak bola tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara yang sepak bolanya sudah mapan seperti di Eropa, kekerasan yang dilakukan suporter juga terjadi.

Inggris, Spanyol, Yunani, Turki, Jerman dan Italia juga kerap menjadi tempat terjadinya keributan antar suporter. Lalu bagaimana cara mereka mengatasi kebrutalan suporter mereka?

Di Italia,Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) mengancam membatalkan seluruh liga di negara itu, setelah rentetan kekerasan oleh suporter berlangsung pada Januari 2007.

Salah satunya ketika seorang ofisial klub amatir Sammartinese tewas ketika terjebak dalam perkelahian antara pendukung dan pemain bola, pada Sabtu 27 Januari 2007.

Kala mengancam akan membatalkan seluruh kompetisi, Presiden FIGC saat itu, Luca Pancalli, menyebut, “Kita dalam kondisi genting. Untuk memperbaiki citra sepak bola, saya siap mengambil langkah drastis.”

Dan beberapa hari setelahnya, kematian karena aksi pendukung sepak bola Italia kembali terjadi. Geram, Pancalli pun melaksanakan janjinya, membatalkan seluruh pertandingan, bahkan laga yang digelar oleh tim nasional Italia selama sepekan.

Di Turki lain lagi caranya. Salah satu klub yaitu Fenerbahce mencoba redam anarkisme suporter dengan melarang suporter laki-laki datang ke stadion.

Kantor Berita Anadolu melaporkan, saat laga antara Fenerbahce dan Manisaspor, di Istanbul, pada September 2011, Fenerbahce memberikan lebih 41.000 tiket gratis kepada penonton perempuan dan anak-anak.

“Ini akan saya ingat selamanya. Jarang sekali stadion dipenuhi perempuan dan anak-anak,” kata kapten Fenerbahce waktu itu, Alex de Sousa, seperti dilaporkan Kantor Berita Anadolu.

Rusia salah satu negara yang kerap dilanda kerusuhan antar suporter. Ini sudah terjadi sejak awal tahun 2000-an.Spartak Moscow, Lokomotiv Moscow dan CSKA Moscow adalah klub yang pendukungnya kerap rusuh.

Rusia pun memiliki polisi anti-huru hara dengan perlengkapan komplet, yang kerap dipanggil para suporter sebagai “kosmonot”, karena pakaian pelindung tebal dan helm yang mereka kenakan.

Polisi tersebut dilengkapi tameng, pentungan, dan gas air mata untuk menindak tegas pelaku, yang sering bersenjata.

Bahkan, tiga pekan jelang pembukaan Piala Dunia 2018, pemerintahan Presiden Vladimir Putin meluncurkan video yangmemperlihatkan polisi menguji coba penggunaan pistol dan senapan mesin, untuk menakut-nakuti penggemar yang berniat rusuh.

Lebih jauh lagi, hukuman terkait tindakan yang dilakukan suporter juga bisa dijatuhkan pada klub atau tim nasional yang didukungnya.

Pada 2016 lalu, Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) mendeportasi 50 suporter asal Rusia, dan menjatuhkan sanksi denda €150.000 atau sekitar Rp 2,7 miliar kepada tim nasional Rusia, setelah melakukan kekerasan berantai dan terkoordinasi, saat penyelenggaraan Euro 2016 di Prancis.

[ad_2]

Source link