Beranda Sport Ombudsman: Arena Asian Games 2018 belum ramah difabel

Ombudsman: Arena Asian Games 2018 belum ramah difabel

9
0
BERBAGI

[ad_1]

Jakarta (ANTARA News) – Hasil survei Ombudsman RI menemukan bahwa arena penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang belum ramah terhadap penonton difabel.

Hasil survei kesiapan penyelenggaraan Asian Games 2018, yang bertujuan menilai persiapan panitia dalam menyediakan fasilitas, infrastruktur dan pelayanan publik di AG 2018, diserahkan oleh anggota Ombudsman Adrianus E. Meliala ke Sekjen INASGOC Erris Herryanto, Sekretaris Perusahaan Jakabaring Sports City Mirza Z. Mursalin dan Direktur Utama Pusat Pengelola Gelora Bung Karno Winarto di Gedung Ombudsman, Jakarta, Senin.

Pengumpulan data survei dilakukan pada H-60 dan dipaparkan pada H-40 pelaksanaan Asian Games 2018 di sejumlah arena di dalam kawasan GBK seperti pusat akuatik, hall basket, Istora Senayan, JCC, lapangan bisbol, lapangan hoki, lapangan panahan, lapangan sofbol, Hall D:Squash, Tennis Indoor, Tennis Outdoor.

Kemudian di arena di luar arena GBK seperti Equestrian Park, GOR Bulungan, TMII, dan Velodrome; dan arena di Jakabaring Sports Center seperti arena panjat, arena voli pantai, arena boling, danau Jakabaring, Stadion Gelora Sriwijaya, lapangan tembak, lapangan tenis, Ranau Sport Hall, dan Roller Sport Arena.

“Survei dilakukan pada H-60. Artinya ada sesuatu yang sudah ada, tidak ada dan yang akan ada. Yang kacau adalah kalau itu tidak ada,” kata Adrianus.

Arena dengan sarana AG 2018 secara umum masih memiliki konsep pembangunan yang tidak ramah bagi penyandang kebutuhan khusus, demikian laporan Ombudsman.

Dari 24 arena, 14 arena tidak menyediakan tempat duduk pengunjung berkebutuhan khusus, enam arena menyediakan dan empat arena sudah menyediakan.

Data Ombudsman menemukan bahwa di kawasan GBK, ada sekitar 72 persen pemenuhan tempat duduk khusus bagi difabel (36.36 persen sudah ada, 36,36 persen akan ada).

Sementara di luar kawasan GBK, hanya akan ada pemenuhan 25 persen untuk tempat duduk khusus.

Arena di kawasan Jakabaring memiliki angka terendah dalam pemenuhan tempat duduk khusu yaitu sekitar 11 persen.

Karena menggunakan anggaran yang sebagian besar berasal dari uang negara, maka pihak penyelenggara wajib untuk menyelenggarakan AG 2018 dengan mengikuti standar-standar sesuai dengan undang-undang, kata Adrianto.

“Jangan sampai diskriminatif,” kata Adrianto.

Sekper Jakabaring Sports Center Mirza Z. Mursalin pun mengakui bahwa ada dua hal yang menjadi perhatian arena olahraga di Palembang, Sumsel, tersebut yaitu fasilitas untuk kaum difabel dan rendahnya tingkat keamanan di sana.

Temuan lain Ombudsman yaitu belum terpasangnya papan informasi dan penunjuk arah lokasi arena menggunakan dua bahasa, namun hanya menggunakan piktogram, sehingga dikhawatirkan menyulitkan pengunjung asing.

Kemudian belum adanya sarana pengukur kepuasan pengunjung di seluruh arena.

Belum semua arena dilengkapi oleh klinik kesehatan, ruang kendali stadion (Stadium Control Room), dan rambu keselamatan.

Selain itu Ombudsman menilai perlunya panitia penyelenggara menyediakan ruang ibadah yang layak, mudah diakses, nyaman dan aman sesuai standar internasional saat AG berlangsung.

Sementara itu, Sekjen INASGOC Eris Herryanto menyambut positif survei yang dilakukan oleh Ombudsman tersebut sebagai bahan masukan untuk memperlancar dan mebantu persiapan AG 2018.

Terkait sejumlah temuan Ombudsman di lapangan, Eris mengungkapkan bahwa sebagaian fasilitas memang belum tergarap karena dalam penyiapan arena ada yang disebut dengan `overlay`, yaitu suatu kegiatan menambah saran prasarana dari arena-arena yang dibuat oleh pemerintah pusat, daerah maupun swasta, yang pengerjaannya diserahkan kepada INASGOC.

Overlay tersebut bersifat sementara dan pada dasarnya bertujuan untuk melengkapi sarana yang telah ada seperti klinik, ruang keamanan, tempat ibadah dan sebagianya.

Terkait dengan fasilitas bagi difabel, Eris mengatakan bahwa hal tersebut menjadi tanggung jawab dan harus diakomodasi oleh pemilik arena.

“Kami tidak akan merubah sarana prasarana yang diserahkan oleh kami karena kami tidak diizinkan untuk merubahnya,” kata Eris.

“Dari data-data yang dipaparkan tadi ini menjadi bekal bagi kami sepulangnya dari sini kami ingin inspeksi algi satu persatu. Alhamdulillah masih ada waktu,” Direktur Utama Pusat Pengelola Gelora Bung Karno Winarto menambahkan.

Baca juga: Penjabat Gubernur Jabar minta pembenahan arena Asian Games dikebut

Pewarta:
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

[ad_2]

Source link