Beranda Sport Reinkarnasi Prancis 1998 di Rusia – VIVA

Reinkarnasi Prancis 1998 di Rusia – VIVA

14
0
BERBAGI


VIVA – Prancis berpotensi menyabet gelar juara dunia kedua. Mereka sudah menembus final Piala Dunia 2018, usai mengalahkan Belgia di St Petersburg Arena dengan skor tipis, 1-0.

Tak mudah bagi Prancis untuk lolos ke final Piala Dunia 2018. Mereka harus melewati adangan Belgia, yang juga jadi favorit.

Laga ketat harus dilakoni oleh Prancis, Selasa 10 Juli 2018 atau Rabu dini hari WIB. Belgia benar-benar menguasai jalannya laga.


Secara keseluruhan, Belgia mencetak 60 persen penguasaan bola. Sisanya, ada di Prancis.

Yang menarik, justru Prancis bisa mencetak gol ke gawang Belgia. Umpan Antoine Griezmann di menit 51, mampu dieksekusi lewat tandukan maut Samuel Umtiti.

Thibaut Courtois tak berdaya. Prancis pun unggul 1-0, hingga laga berakhir.

Sebenarnya tak heran jika Prancis bisa menang atas Belgia. Ditinjau dari tipe bermain, keduanya sama.

Baik Prancis maupun Belgia, merupakan tim yang adaptif dengan strategi lawan. Masing-masing pelatih mengandalkan taktik kompleks demi bisa memenangkan laga.

Hanya saja, Prancis lebih oportunis ketimbang Belgia. Lewat sifat natural yang mereka miliki, Belgia benar-benar dibuat kesulitan.

Lihat saja statistik akhir dari pertandingan ini. Meski Belgia menguasai jalannya laga, justru Prancis yang lebih banyak ciptakan peluang.

WhoScored mencatat, ada 19 percobaan untuk mencetak gol yang dilakukan Prancis. Sedangkan, Belgia cuma bisa membuat peluang sebanyak sembilan kali, padahal mereka memiliki penguasaan bola yang jauh lebih banyak.

Dan, kesalahan kecil Belgia yang terjadi lewat sepak pojok di menit 51, bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Prancis untuk mengunci kemenangan di laga ini.

“Partai yang begitu ketat. Tak banyak momen besar tercipta untuk menentukan hasil laga. Perbedaannya, hanya dalam situasi bola mati. Itu membuktikan seberapa ketatnya duel ini,” kata pelatih Belgia, Roberto Martinez, dilansir situs resmi VIVA.

Martinez mengakui kokohnya lini belakang Prancis. Para pemain depan yang dimilikinya macam Eden Hazard, Romelu Lukaku, dan Kevin De Bruyne, benar-benar dibuat stres oleh Raphael Varane Cs.

“Hingga kami tak bisa menemukan keajaiban di depan gawang lawan. Atau, setidaknya sedikit keberuntungan,” terang Martinez.

Beda dengan Martinez, pelatih Prancis, Didier Deschamps justru merasa kemenangan tim asuhannya lebih dikarenakan adanya kesalahan taktik Martinez.

Menghadapi Prancis, Martinez mencoba melakukan hal yang sama ketika Belgia menyungkurkan Brasil. Saat itu, Marouane Fellaini ditugaskan mengawal Philippe Coutinho. Ketika menghadapi Prancis, target Fellaini adalah Paul Pogba, rekan satu timnya di Manchester United.

Ada dua harapan dari Martinez, pertama Fellaini bisa menang duel dengan Pogba karena sudah kenal betul tipe permainannya. Lewat aksi-aksi kotor Fellaini, Pogba diharapkan meledak emosinya dan fokus dalam pertandingan menjadi kacau.

Kenyataan bicara sebaliknya. Pogba malah bermain begitu cair. Tak seperti Coutinho, Pogba selalu mampu lepas dari kawalan Fellaini.

Dalam kondisi ini, Pogba bisa menguasai bola dengan mudah. Sedangkan, Fellaini harus bekerja keras mengejar Pogba.

“Pogba main dengan efisien. Fellaini sepertinya memang ditugaskan untuk menjaga Pogba. Jadi, fokusnya cuma kawal Pogba, tak bebas bergerak dengan bola,” ujar Deschamps.

Tak usah heran sebenarnya dengan gaya main Prancis yang oportunis. Deschamps sebagai pelatih, memiliki naluri tersebut. Sebagai mantan gelandang jangkar, pemikirannya tentang sistem pertahanan tentu sangat kuat.

Terlebih, Deschamps memiliki banyak jangkar pertahanan yang bertenaga dan begitu kuat dalam duel. Sebut saja Umtiti, Varane, hingga N’Golo Kante. Pun dengan dua bek sayap seperti Benjamin Pavard dan Lucas Hernandez.

Hadirnya Kylian Mbappe dan Antoine Griezmann yang jago sprint juga memudahkan Deschamps memainkan gaya oportunis di Prancis.

Reinkarnasi Skuat 1998



Source link