Beranda Sport Ini Kesaksian Korban Ricuh Suporter di Laga Arema FC vs Persib

Ini Kesaksian Korban Ricuh Suporter di Laga Arema FC vs Persib

8
0
BERBAGI


Bola.net – Korban kerusuhan suporter yang terjadi pada laga antara Arema FC dan Persib Bandung mengingat kembali kisah mereka saat insiden tersebut. Mereka menyebut insiden ini merupakan buah tak becusnya aparat keamanan dalam menjalankan tugas mereka.

Halimah adalah salah satu korban dari tragedi tersebut. Saat kejadian nahas ini, wanita yang mengaku berusia 35 tahun tersebut sedang berjualan di area Gate 10 Stadion Kanjuruhan Malang. Bersama dengan dua putri dan tiga cucunya, yang masih balita, ia menjajakan rokok dan minuman energi pada suporter yang menempati area di wilayah selatan lapangan tersebut.

Halimah tak sendiri. Ia juga dibantu sang suami, Arif, yang berjualan tak jauh dari tempatnya. Selain menjajakan dagangannya, Arif beberapa kali menengok kondisi lapangan. Pasalnya, Arif juga seorang Aremania.

“Tidak ada masalah apa pun sampai jelang akhir pertandingan,” ujar Halimah.

“Sekelompok suporter di tribun timur mulai turun ke lapangan. Ini membuat pertandingan terhenti. Namun, tak ada masalah apa pun di area Gate 10,” sambungnya. “Situasi masih tetap aman di tempat kami.”

“Namun, suasana ini tak bertahan lama. Setelah suporter kian banyak yang masuk lapangan dan situasi ricuh, tiba-tiba ada gas air mata yang jatuh di antara tempat saya dan istri,” kenang Arif.

Gas air mata pertama tak membuat penonton panik. Namun, tak demikian halnya ketika dua proyektil gas air mata lainnya mendarat di area mereka. Situasi mulai kacau.

Ribuan Aremania di area tersebut mulai merasakan dampak gas air mata. Mata mereka pedih, nafas tercekik, mual, dan tenggorokan terasa terbakar. Mereka berebut menghindar dan berupaya segera angkat kaki dari tempat celaka ini. Di situlah petaka dimulai.

“Semua panik. Semua berebut keluar. Padahal, pintu belum dibuka. Akhirnya terjadi saling dorong demi menyelamatkan diri. Ditambah lagi, efek gas membuat banyak Aremania bergelimpangan, mulai kehilangan kesadaran,” tutur Arif.

“Waktu itu semua panik menyelamatkan diri. Dua putri saya dan tiga cucu saya sudah hilang entah ke mana. Dagangan saya pun ludes tertabrak dan terinjak-injak suporter yang berebutan menyelamatkan diri,” sambung sang istri dengan menahan tangis.

Arif mengaku sudah pasrah. Ia hanya berkeliling di area gate 10, berupaya menghindari kepungan asap gas air mata yang menyesakkan napas.

“Kalau ikut-ikutan coba keluar lewat pintu, tentu saya akan bernasib sama dengan yang lain,” kata pria berusia 47 tahun ini.

Sembari berupaya terus menghindari asap gas air mata, Arif dan Halimah terus berupaya menolong sejumlah Aremania yang sudah bertumbangan. Mereka mengguyurkan air ke tubuh-tubuh yang bergeletakan tanpa daya tersebut, berharap agar para korban ini bisa sedikit berkurang penderitaannya.

“Saya juga terus mengingatkan mereka untuk tidak mengucek mata, kendati pedih dan panas. Saya takut ini akan membuat mereka kian menderita,” ujar warga Lesanpuro Kedungkandang Kota Malang ini.

Kekacauan akhirnya sedikit mereda setelah bantuan tim medis datang. Korban-korban yang bergelimpangan dibawa ke area musala di lantai dasar Stadion Kanjuruhan, untuk mendapat perawatan. Di situ pula lah Halimah menemukan salah seorang putrinya, yang ikut menjadi korban.

“Ia sempat tidak sadarkan diri. Namun, setelah mendapat pertolongan medis, dan juga orang pintar, dia bisa kembali sadar,” kenang Halimah. “Rupanya, dia juga kesurupan.”

Setelah bisa berkumpul lagi dengan seluruh anggota keluarganya yang sempat terpisah, Halimah, Arif dan rombongan mereka pulang.

Ketiga cucu mereka, kendati tak sampai parah, turut terdampak dari gas air mata. Namun, untunglah, tak ada gangguan kesehatan apa pun yang dialami tiga balita mungil tersebut.

“Kami juga sudah periksakan mereka ke Puskesmas. Syukurlah, mereka tidak apa-apa,” tutur Halimah.

Arif sendiri tegas menyebut kejadian ini tak lepas dari keteledoran aparat pengamanan. Mereka, dinilai Arif, gagal menjalankan tugas dengan baik.

“Ini semua kan gara-gara petugas yang teledor,” ujarnya geram. “Mereka nggak profesional.”

“Yang rusuh di lapangan. Kenapa mereka menembakkan gas air mata ke tribun? Padahal, di sini banyak wanita dan anak-anak. Lagi pula, tak ada kejadian apapun di tempat kami yang sampai perlu dibubarkan dengan gas air mata,” Halimah menambahkan dengan suara bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca.

Namun, kendati kesal, Arif tak mau memperpanjang masalah tersebut. Ia hanya berharap kerugian material yang ia derita karena barang dagangannya hancur ludes tak bersisa bisa mendapat ganti rugi. Karenanya, Senin (16/04) siang, Arif dan Halimah mendatangi Posko Pengaduan Korban Insiden Kerusuhan Arema vs Persib di Kantor Arema FC, Jalan Mayjen Panjaitan no 42 Malang. Ia berharap aduan dan keluh-kesahnya ini membuahkan hasil.

“Kerugian saya sekitar Rp3 juta. Saya hanya ingin minta pertanggungjawaban pada panpel, manajemen, dan asosiasi PKL. Kondisi saya saat ini berantakan. Padahal, sehari-hari saya juga pedagang,” ucap Arif.

“Saya juga tak mau ambil kesempatan dalam kesempitan dari situasi ini. Pasalnya, saya juga pedagang.”

Arif sendiri menegaskan tak kapok dengan kejadian ini. Jiwa Aremania-nya seakan tak rela jika ia memilih undur diri dari tribun.

“Tak ada rasa trauma. Tak ada penyesalan juga,” ia menandaskan. (den/pra)

 



Source link