Beranda Sport Pecat Vincenzo Montella, AC Milan Cuma Mengulang Kisah Lama

Pecat Vincenzo Montella, AC Milan Cuma Mengulang Kisah Lama

27
0
BERBAGI


Memecat pelatih di tengah musim kemudian mengganti dengan eks pemainnya yang baru merintis karier kepelatihan, sudah jadi kisah lama di AC Milan.


OLEH    AHMAD REZA HIKMATYAR      Ikuti @rezahikmatyar di twitter


Hari penghakiman itu akhirnya datang juga. AC Milan resmi mengumumkan pemecatan pelatih kepala yang sudah memimpin tim selama 16 bulan terakhir, Vincenzo Montella. Mengejutkan? Sama sekali tidak. Isu pemecatan Montella sudah muncul sejak giornata tujuh Serie A Italia musim ini dan baru terealisasi tujuh giornata berselang. 

“Saat ini kami bahkan tak sampai rerata 1,5 poin, kami pikir ini pilihan terbaik, bagi Montella juga. Montella melakukan semua yang dia bisa, kami tak berhasil tapi kami tahu apa yang tak bekerja. Dan Mirabelli secara bertahap menyadari bahwa ada sesuatu yang rusak. Ada kesalahan, beberapa hal tak berjalan dan saya yakin kami akan kembali pada jalur positif akhir pekan ini,” ungkap CEO Milan, Marco Fassone, seperti dilansir Sky Sports Italia.

Bagaimana dengan pelatih penggantinya, salah satu legenda ikonik Milan, Gennaro Gattuso? Apakah itu mengejutkan? Lagi-lagi tidak. Keputusan macam ini adalah keputuisan klasik khas I Rossonerri sejak jatuh terpuruk pada 2014 lalu.

Harus diakui bahwa Montella memang memiliki dosa, yang menstimulasi pemecatannya. Pendekatan taktik yang dilakukannya musim ini terbilang buruk, menimbang kecerdasan taktikalnya yang sebelumnya mulai diakui publik sepakbola Italia.

Montella yang biasa bersenjata formasi 4-3-3, mendominasi permainan, dan punya variasi serangan yang kaya, tampak hilang akal untuk menerapkannya di Milan musim ini. Pemilihan pemain di starting XI juga kerap membuat Milanisti bertanya-tanya.

Formasi tiga bek mulai dari 3-5-2, 3-2-3-1-1, 3-4-1-2, sampai 3-4-3 tampak begitu dipaksakan untuk memaksimalkan potensi pembelian termahal Milan musim ini, Leonardo Bonucci, yang malah konsisten tampil memprihatinkan. Montella pun amat getol menurunkan Riccardo Montolivo dan Fabio Borini di luar posisi aslinya, dengan performa yang medioker.

Jadi seperti kata Fassone tadi, musim ini Milan bahkan tak sanggup meraih rerata 1,5 poin per laga. Satu pertimbangan vital untuk memecat Montella, mengingat target klub musim ini yang lolos ke Liga Champions musim depan.

Namun jika kita membedahnya lebih dalam, Montella tak bisa benar-benar disalahkan. Bahkan mungkin dia layak mendapat waktu lebih lama. Dengan Milan yang kini memiliki wajah baru melalui pemilik baru, struktur manajemen baru, dan 11 pemain baru, L’Aeroplanino bisa dikatakan sebagai Kambing Hitam revolusi.

“Tanggung jawab untuk posisi tujuh Milan? Pelatih selalu bertanggung jawab atas masalah teknik di atas lapangan. Menurut saya, semuanya bertanggung jawab. Ekspektasi yang dipelihara musim ini terlalu tinggi,” tutur Montella, seperti dikutip Sky Sports Italia.

Faktanya sejak era Massimiliano Allegri — pelatih terakhir yang membawa Milan Scudetto — Montella merupakan juru taktik tersukses. Sosok 43 tahun itu punya rerata terbaik di antara korban pelatih lainnya, lewat persentase kemenangan mencapai 51,56 persen. Dia juga jadi satu-satunya pelatih yang mempersembahkan trofi, lewat Piala Super Italia 2016 lalu.

Lagipula musim ini tak berlangsung benar-benar buruk buat Montella. Milan memang tak sanggup raih rerata 1,5 poin per partai, tapi tetap duduk di peringkat tujuh klasemen yang baru masuki giornata 14. Selain itu Setan Merah baru saja melenggang ke babak 32 besar Liga Europa. Sederhananya, ekspektasi manajemen terlampau tinggi dan Montella layak diberi waktu lebih panjang.

Gennaro Gattuso GFX ID

Satu keputusan yang bisa jadi merupakan blunder terbesar Milan adalah penunjukan Gattuso. Situasi ini seakan menegaskan bahwa tak ada perubahan sama sekali yang dibawa Yonghong Li dibanding era penghabisan dinasti Silvio Berlusconi.

Mengulang kisah lama yang mulai membentuk pola tradisi, Milan lagi-lagi memecat pelatih di tengah musim kemudian menggantinya dengan eks pemainnya yang baru merintis karier sebagai pelatih. Sebut saja Clarence Seedorf, Filippo Inzaghi, Chrsitian Brocchi, dan kini Gattuso.

Dengan segala hormat terhadap kebesaran keempat sosok di atas kala masih jadi pemain, Milan terlampau besar untuk mereka pimpin dari kursi pelatih. Seedorf, Inzaghi, dan Brocchi, pada akhirnya cuma dibuat malu karena dicap gagal total.

Lantas bagaimana dengan Gattuso? Melihat riwayat melatihnya yang baru seumur jagung dengan prestasi memprihatinkan, apa yang bisa Anda harapkan? Menyelamatkan Pisa dari zona degradasi Serie B musim lalu saja tak mampu, apalagi meloloskan Milan ke Liga Champions. Jangan kaget jika kita hanya akan dihibur oleh aksi emosionalnya di pinggir lapangan.

Yonghong Li Marco Fassone AC Milan

Yonghong Li sebagai pemilik baru selayaknya sadar bahwa revolusi yang dihadirkannya di Milan tak bisa menuai hasil instan. Milan yang dimilikinya bukan berasal dari Liga Super Tiongkok yang level kompetitifnya dipertanyakan.

Li juga bukan konglomerat dengan uang tak tebatas layaknya Nasser Al-Khelaifi sang pemilik Paris Saint-Germain. Terlebih Milan yang diakuisisinya kini bukanlah Milan yang dahulu begitu ditakuti di Italia dan Eropa.

“Versi terburuk sepanjang sejarah Milan,” begitu Carlos Bacca menggambarkannya. Bersama Fassone dan Massimo Mirabelli, Li harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, tak terkecuali dalam pemecatan dan penunjukan pelatih.

Milan harus mau berproses, yang sejauh ini baru berjalan lima bulan. Andrea Agnelli dan kolega saja butuh dua tahun untuk membuat Juventus bangkit seperti sekarang. Berapa lama waktu yang dibutuhkan Il Divolo Rosso? Untuk saat ini, mari katakan sepanjang Li cs tak lagi membuat keputusan medioker seperti yang baru saja terjadi.

 



Source link