Beranda Health BKKBN Jangkau Remaja Penyandang Disabilitas

BKKBN Jangkau Remaja Penyandang Disabilitas

26
0
BERBAGI


Minggu, 29 Oktober 2017 19:19 WIB


INFO BISNIS – Keberhasilan upaya meningkatkan kualitas remaja dengan pemberian akses informasi, pendidikan, konseling, dan pelayanan tentang kehidupan berkeluarga melalui Program Ketahanan Remaja, salah satunya diukur dengan Indeks Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Indeks Pengetahuan KRR mengukur pengetahuan tentang masa subur, umur sebaiknya menikah dan melahirkan, penyakit anemia dan HIV/AIDS, dan narkoba.

“Harapannya, setelah mengetahui keempat aspek tersebut, remaja tidak melakukan aktivitas seksual sebelum menikah yang menjadi penyebab kehamilan yang tidak diinginkan dan pernikahan di usia yang belum ideal, yang akan menambah daftar panjang jumlah kelahiran di kelompok usia remaja,” ujar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty.

Oleh karena itu, kata Surya, keberhasilan program ini juga ditentukan oleh ranah perilaku remaja melalui usia kawin pertama (UKP) dan kelahiran pada perempuan kelompok usia 15 – 19 tahun.  “BKKBN melalui Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja sebagai salah satu sumber informasi  bagi remaja tentang pengetahuan KRR harus terus dikembangkan,” ucap Surya.

PIK Remaja tidak sekadar dibentuk, namun harus dikelola sehingga  fungsi utamanya berjalan dengan baik. Di antaranya sebagai wadah untuk berbagi informasi, melakukan aktivitas yang inovatif,  melakukan konseling, dan rujukan bagi remaja-remaja yang memerlukan.  Agar bisa bertahan, PIK Remaja  harus punya daya lenting (resilience), tidak kaku. PIK Remaja tidak selalu harus berbentuk organisasi dengan pengertian konvensional yang harus ada wujudnya fisiknya. Di zaman serba digital dengan sasaran generasi milenial, PIK Remaja harus bermetamorfosa menjadi Cyber PIK Remaja, yaitu PIK Remaja berbasis media sosial yang terkoneksi internet. PIK Remaja menjadi cukup hanya berwujud akun media sosial yang terus online sepanjang waktu. “Semua materi dan media promosi dan KIE Program Ketahanan Remaja didisain dengan format digital, kemudian diunggah dan disebarluaskan melalui jaringan media sosial dan media lain berbasis internet” tutur Surya.

Program Ketahanan Remaja menempatkan remaja (usia 10 – 24 tahun dan belum menikah) sebagai sasaran utama, tanpa kecuali. Namun, hingga saat ini belum secara khusus menempatkan remaja penyandang disabilitas dalam program dan kegiatannya. Padahal, perundang-undangan menjamin bahwa penyandang disabilitas memiliki hak memperoleh pendidikan, ketenagakerjaan, kesetaraan dalam pembangunan dan dalam menikmati hasil pembangunan, aksesibilitas, rehabilitasi dan kesejahteraan sosial, serta pengembangan bakat dan kehidupan sosial secara setara, akses informasi, pendidikan, konseling, dan pelayanan tentang kehidupan berkeluarga. Pada kenyataannya pun, semua remaja tanpa kecuali, sama-sama memiliki risiko dalam hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya seperti melakukan dan/atau dipaksa melakukan pernikahan dini, seks pra nikah, dan penyalahgunaan napza. Kendati demikian, dalam implementasinya di lapangan, remaja GenRe yang tergabung dalam PIK Remaja sudah melakukan fungsi-fungsinya dengan menyasar remaja penyandang disabilitas.  

Oleh karena itu, pada momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-89 Tahun 2017, sesuai dengan hashtag-nya  “#BeraniBersatu”, sudah saatnya remaja-remaja GenRe menggandeng remaja-remaja penyandang disabilitas untuk bersama-sama memperjuangkan hak-haknya, terutama  akses terhadap informasi dan layanan kesehatan reproduksi sebagaimana yang diatur dalam undang-undang.  Pada akhirnya menjadi momentum juga bagi BKKBN untuk memperluas jangkauan sasaran Program Ketahanan Remaja kepada remaja-remaja penyandang disabilitas. “Ke depan, semua sumber informasi terkait kesehatan reproduksi remaja, baik wadah PIK Remajanya, materi maupun medianya, dapat diakses dengan baik oleh semua remaja tanpa kecuali,” kata Surya. (*)





Source link