Beranda Health Mengenali Gejala Penyakit Hemofilia

Mengenali Gejala Penyakit Hemofilia

5
0
BERBAGI


Jakarta, CNN Indonesia — Memeringati ‘Hari Hemofilia Sedunia’ yang jatuh pada hari ini, Selasa (17/4), World Federation of Hemophilia (WFH) melakukan kampanye ‘light up red’ untuk meningkatkan kesadaran masyarakat luas mengenai penyakit hemofilia. Dengan menyalakan lampu merah di titik-titik historis di berbagai kota, WFH berharap masyarakat luas akan memiliki dorongan untuk mempelajari lebih lanjut mengenai penyakit hemofilia.

Menurut WFH, sekitar satu dari 10.000 orang terlahir dengan penyakit kelainan darah ini. Orang yang menderita hemofilia memiliki kekurangan suatu protein di dalam darahnya. Protein tersebut adalah protein yang membantu darah menggumpal dengan sempurna ketika terluka dan berdarah.

Karena darah tidak mampu menggumpal dengan sempurna, luka yang dimiliki penderita hemofilia akan lebih sulit untuk sembuh. Penderita hemofilia juga dalam mengalami pendarahan dalam secara spontan dan kerap memiliki sendi yang bengkak dan nyeri.

Dirangkum dari sejumlah sumber, penyakit hemofilia memiliki tiga jenis, yakni hemofilia A, B dan C. Tiap jenis hemofilia juga memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda.

Hemofilia tidak bisa disembuhkan, namun penderita bisa melakukan perawatan untuk mendapat kondisi tubuh yang lebih baik. Hal ini disebabkan, hemofilia biasanya adalah kondisi yang dibawa seseorang sejak lahir, dan gejalanya dapat dilihat sejak usia dini.

Salah satu gejala hemofilia yang paling jelas dan mudah dikenali adalah pendarahan yang sulit berhenti ketika terluka, cabut gigi, atau operasi. Selain mengalami pendarahan yang sulit berhenti, penderita hemofilia juga dapat menunjukkan gejala pendarahan spontan.

Pendarahan spontan memang tidak terjadi kepada semua penderita hemofilia. Hal ini tergantung pada seberapa parah seseorang kekurangan faktor yang membantu darah menggumpal.

Penderita hemofilia yang hanya memiliki kekurangan sedikit faktor tersebut mungkin hanya akan berdarah ketika mengalami trauma atau cedera pada bagian tubuh. Sedangkan penderita hemofilia yang memiliki kekurangan faktor dalam tingkat parah dapat mengalami pendarahan spontan tanpa alasan apapun.

Pada anak-anak yang terlahir dengan kondisi hemofilia, gejala ini biasanya muncul ketika berusia sekitar 2 tahun.

Jika pendarahan spontan tersebut terjadi di dalam tubuh, biasanya memar-memar besar dapat terlihat di permukaan kulit penderita hemofilia. Memar-memar ini muncul tanpa alasan apapun. Selain itu, pendarahan di dalam tubuh juga dapat menyebabkan otot dan sendi yang nyeri. Jika lumayan parah, otot dan sendi dapat membengkak dan terasa kaku.

Gejala-gejala lain juga pendarahan hidung yang terlalu sering (mimisan), darah di urin dan feses, serta gusi yang mudah berdarah.

Pendarahan spontan yang dialami penderita hemofilia dapat terjadi di dalam maupun luar tubuh, meski mayoritas pendarahan akan terjadi di dalam tubuh, tepatnya di otot dan sendi. Pendarahan otot biasanya paling rentan terjadi di lengang, otot iliopsoas, paha, dan betis. Sedangkan sendi yang paling rentan berdarah adalah lutut, pergelangan kaki dan siku.

Pendarahan yang terjadi berulang-ulang dapat menyebabkan masalah kesehatan lainnya, seperti artritis. Oleh karena itu, seseorang yang menderita hemofilia harus rutin mendapat perawatan dari dokter. (ast/rah)



Source link