Beranda Health Tahan Emosi Bertemu Pasien “Bandel”

Tahan Emosi Bertemu Pasien “Bandel”

19
0
BERBAGI


PROKAL.CO, SENYUM ramah jelas terlihat dari wajah manis Elok Rochmawati saat menyambut kedatangan pasiennya. Perempuan yang berprofesi spesialis mata di Klinik Spesialis Mata SMEC Samarinda itu mengatakan, melayani pasien dengan ramah merupakan kewajiban. Agar pasien nyaman dan bisa menerima saran dari dokter yang memeriksa.

“Tak hanya ramah, saya juga perlu memahami karakter pasien yang datang, agar bisa membangun komunikasi yang baik dalam waktu yang singkat,” ujar perempuan yang akrab disapa Elok itu saat ditemui, Selasa (20/2).

Dengan semangat, Elok menceritakan pengalamannya. Dia mengatakan, sebelum bertugas di SMEC Samarinda, dia bekerja di SMEC Medan selama delapan bulan. Tiga tahun sudah dia bekerja di SMEC Samarinda dan banyak menemui pasien dengan beragam latar belakang dan karakter.

“Memang awalnya tidak mudah, tapi karena sudah terbiasa menghadapi pasien jadi sudah bisa beradaptasi. Saya sangat senang bisa melayani pasien, apalagi ketika melihat kondisi mereka jadi lebih baik setelah diobati,” tuturnya.

Namun, sebagai manusia, Elok tentunya tidak luput dari jengkel dan suasana hati yang tidak baik. Contohnya, ketika dia bertemu pasien yang berulang-ulang datang dengan diagnosis yang sama. Hal itu karena pasien tidak mengikuti saran yang diberikannya, sehingga penyakit tidak kunjung sembuh.

“Terkadang emosi, tapi, saya mencoba lebih pengertian dan bertanggung jawab dengan tugas sebagai dokter. Makanya, memahami karakter pasien itu penting, dan saya mencoba melihat dari sisi lain pasien. Mungkin saja, pasien tidak biasa beradaptasi dengan saran yang saya berikan. Karena semua pasien punya pemahaman yang berbeda-beda, jadi harus sabar menghadapinya,” beber perempuan 35 tahun itu.

Praktik langsung saat menghadapi pasien, menurut Elok, merupakan ilmu yang sangat berharga. Dalam melayani masyarakat, dia jadi bisa lebih banyak belajar. Dia pun tidak berhenti untuk selalu mengedukasi dirinya.

“Sampai sekarang tetap harus terus belajar dan upgrade ilmu. Sebab, jika ilmu yang sudah ada tidak ditingkatkan dan tidak diasah, malah akan tumpul dan pastinya akan memengaruhi pelayanan kepada pasien,” ucap alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tersebut.

Pengalaman menarik yang dialaminya, membuat Elok sangat mencintai profesinya tersebut. Walaupun awalnya dia tidak ingin menjadi spesialis mata. Elok mengungkapkan ingin sekali menjadi spesialis bedah plastik, tapi setelah berdiskusi dengan pamannya, dia pun memilih melanjutkan pendidikan program spesialis.

“Saya mau menjadi spesialis bedah plastik, karena menyukai nilai estetika. Namun, menurut paman saya, hal itu tidak mudah. Beliau menyarankan mengambil program spesialis yang lebih mudah,” pungkasnya. (*/lia/*/ni/k8)



Source link