Home Health Indonesia Masuk Daftar 5 Negara Kekurangan Gizi, Ini Fakta Stunting

Indonesia Masuk Daftar 5 Negara Kekurangan Gizi, Ini Fakta Stunting

7
0
SHARE


Ternyata, Indonesia berada di peringkat kelima negara yang kekurangan gizi sedunia. Kondisi ini memprihatinkan karena dapat membuat kualitas kemampuan kognitif generasi penerus semakin rendah. Belum lagi ancaman kematian bayi dan anak serta berbagai penyakit yang rentan menyerang.

“Dalam 15 tahun terakhir ekonomi kita selalu tumbuh. Namun ternyata kita harus melirik Indonesia yang mempunyai masalah gizi yang besar. Dulu berapa puluh tahun lalu, mungkin kita senyum-senyum ketika melihat anak kurang gizi di Afrika, wah enggak ada nih di Indonesia. Tetapi ternyata coba lihat,” tukas Dewan Pembina Perhimupunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), Fasli Jalal dalam diskusi di Jakarta, Rabu (25/1).

Fasli juga mengungkapkan angka-angka ironis dan nasib anak-anak stunting ke depan. Angka stunting diprediksi juga akan merugikan perekonomian Indonesia dalam jangka panjang. Ada beberapa fakta yang menjadi perhatian dalam kasus stunting.

Jumlah Angka Stunting

Pemerintah Indonesia melakukan berbagai upaya untuk dapat menurunkan angka anak stunting. Dengan turunnya prevalensi stunting pada anak di bawah umur dua tahun dari 37 persen (2013) menjadi 28 persen di tahun 2019. Salah satu usahanya adalah dengan fokus gizi pada 1000 hari kehidupan pertama dari mulai kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.

“PBB ingin semua mitra PBB di negara-negarayang memiliki masalah kekurangan gizi, memperhatikan 1000 hari pertama kehidupan. Sebab masih ada 36,7 persen anak gagal tumbuh,” tegas Fasli.

Stunting Pengaruhi Kualitas Otak Anak

Menurut Fasli, anak stunting mengalami hambatan pertumbuhan pada sel otaknya. Ketika dilihat dengan teknologi pada otak bagian tertentu bisa terlihat perkembangan anak stunting berbeda.

“Karena itu anak stunting waktu belajar di sekolah telmi alias telat mikir. Responsif buruk. Dan saat dewasa reproduksi rendah, saat usia dewasa hingga lanjut terserang penyakit metabolik seperti diabetes, jantung, stroke dan lainnya,” papar Fasli.

Ketahanan Pangan Pangkal Masalah Stunting

Fasli menegaskan stunting bisa muncul karena tak cukup asupan makanan ke dalam mulut anak. Mungkin makanan ada di rumah, tetapi anak tak diberi sesuai kebutuhan.

“Makanan cukup di rumah, tapi bapaknya sibuk, ibunya kurang perhatian, makanan anak diserahkan ke pembantu,” jelasnya.

Apalagi jika makanan tak sampai ke rumah. Ketahanan pangan tak ada di rumah. “Itulah mengapa beras sejahtera penting sekali. Apalagi jika ketahanan pangan masyarakat di daerah tak ada lalu ditambah dengan bencana dan kekeringan,” kata Fasli.

Sanitasi Buruk

Sanitasi buruk juga bisa menyebabkan anak menjadi stunting. Banyak masyarakat belum memiliki Mandi Cuci Kakus (MCK). Akhirnya anak bisa terpapar cacingan. Produktivitas menurun.

Stunting Bikin Ekonomi Merosot

UNICEF memperkirakan stunting juga bisa menyebabkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) merosot 3 persen. Sedangkan analisis Qureshy tahun 2013 menyebut stunting merugikan Indonesia sampai Rp 300 triliun per tahun.


(ika/JPC)



Source link