Home Health Pasien Difteri Semakin Bertambah | Kaltim Post

Pasien Difteri Semakin Bertambah | Kaltim Post

11
0
SHARE


PROKAL.CO, SAMARINDA –  Sebuah pesan singkat dari media sosial tentang penyakit difteri kembali tersebar. Dalam pesan berantai tersebut menyebut, satu lagi warga Balikpapan terjangkit difteri. Disebutkan pula, sang pasien terinfeksi difteri setelah berenang. Masih dari pesan itu, kini pasien sudah dirujuk ke RSUD AW Sjahranie, Samarinda, lantaran ruang isolasi RSUD Kanujoso Djatiwibowo sudah kelebihan pasien. 

Lalu, benarkah berenang satu kolam renang dengan pengidap difteri bisa tertular penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheria itu? Dokter spesialis anak, dr Herwina SpA mengatakan, difteri sangat mudah menular. Penularannya melalui droplet. Yakni, bisa lewat bersin, batuk, atau kontak langsung dengan penderita. “Jadi kalau ada orang menderita difteri di kolam renang, ya sangat bisa menular,” ujar dokter spesialis anak tersebut.

Dia mengatakan, jika ada orang menderita difteri di pusat perbelanjaan juga sangat bisa menular. Karena itu, salah satu kewaspadaan atau pencegahan terjangkit difteri adalah dengan menghindari tempat-tempat ramai.

Sementara itu, terang dokter spesialis telinga, hidung, tenggorokan, kepala, dan leher dr Moriko Pratiningrum SpTHT-KL, langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DPT. Vaksin tersebut meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, yakni terhirup percikan air liur penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum. Bahkan, bisa menular melalui barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.

“Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita juga menjadi media penularannya. Sebab itu, para perawat yang menangani pasien difteri akan mengenakan pakaian khusus. Penularan umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga,” pungkas Moriko.

Dari RSUD AW Sjahranie, pasien difteri di Samarinda kian bertambah. Selasa (9/1), tercatat jumlah pasien positif difteri di rumah sakit kelas A itu sebanyak lima orang positif dan seorang suspect. Perkembangan kemarin (12/1), jumlah pasien positif difteri bertambah menjadi delapan orang. Sedangkan sepuluh orang masih dinyatakan suspect.

“Pasien terbaru datang hari ini (kemarin),” ujarnya. Jadi, total pasien yang dirawat di RSUD AW Sjahranie ada 18 orang dengan rentang usai 2–22 tahun. Terdiri dari delapan pasien positif difteri, sisanya masih suspect atau terduga difteri. Artinya, gejalanya sama dengan difteri namun bakteri belum ditemukan,” tutur Kepala Unit Humas RSUD AW Sjahranie dr Muhammad Febian Satrio saat ditemui, Jumat (12/1).

Dia menyebut, total pasien kasus difteri yang dirawat sejak awal hingga kini mencapai 21 pasien. Dari semua pasien positif, dua orang sudah diperbolehkan pulang. Yakni, anak usia dua tahun dan ibu hamil tujuh bulan berusia 18 tahun.

Mengenai peningkatan jumlah pasien difteri, lanjut dia, pihak rumah sakit akan menyiapkan tambahan ruang isolasi. Bila sebelumnya ruang isolasi untuk pasien difteri hanya ada di Ruang Melati dan Flamboyan, rumah sakit terbesar di Kaltim itu menyiapkan tambahan ruang isolasi di Ruang Seruni. Pasien yang masih suspect akan dipisah dengan pasien yang positif.

“Karena kamar isolasi yang terbatas, kemungkinan kami hanya bisa menampung tambahan lima pasien lagi,” terangnya. Dia menjelaskan, rumah sakit pelat merah itu sepertinya akan meminta bantuan rumah sakit lain untuk penanganan pasien difteri.

Mengenai asal pasien, Satrio mengatakan, semua pasien berasal dari Kota Tepian. Dia membantah ada pasien dari Balikpapan yang dirujuk ke RSUD AW Sjahranie. Mayoritas pasien di sana bertempat tinggal di kawasan padat penduduk di Samarinda. “Seperti Jalan M Yamin, Gerilya, Sentosa, Hasan Basri, dan Achmad Yani,” ungkapnya.

Seluruh pasien sudah diperiksa secara mikroskopik. Pemeriksaan ini diklaim 90 persen akurat. Pasien juga diperiksa secara kultur agar hasilnya benar-benar akurat. Namun, pemeriksaan secara kultur ini tidak sebentar, bisa memakan 1–3 pekan untuk mengetahui hasilnya. Bahkan, pasien pertama positif difteri (anak yang berusia 2 tahun) hasil pemeriksaan kulturnya belum keluar. Padahal pasien sudah dinyatakan sembuh.

BELUM KLB

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Samarinda Rustam mengatakan, pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengendalikan difteri. Meski belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB), pihaknya telah melakukan beberapa langkah untuk mengendalikan difteri. Sebab, yang berhak menetapkan KLB adalah pemerintah kota.

Pertama, lanjut dia, pihaknya telah melaksanakan penyelidikan epidemiologi (PE) di daerah kontak terjadinya kasus difteri. Daerah yang dilakukan PE yakni, Kelurahan Air Putih, Bandara, Selili, dan beberapa kelurahan lain di Samarinda. Hasil PE yang diperoleh negatif.

Dia meneruskan, pihaknya juga memberikan antibiotik dan vaksin untuk daerah sebaran difteri di Samarinda. SMK 4 Samarinda menjadi tempat vaksin pertama. Sebanyak 1.300 orang terdiri dari siswa, guru, hingga petugas sekolah divaksin. Senin (15/1), pihaknya akan melanjutkan vaksinasi ke SD Kecamatan Sungai Pinang. “Masyarakat boleh waspada tapi jangan panik. Meski cepat menular, difteri bisa disembuhkan,” ujar Rustam.

Dia mengatakan, sebaiknya masyarakat melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Sebab, bakteri mudah berkembang pada lingkungan yang kotor. Kemudian, jaga sistem imun dengan mengonsumsi makanan sehat. Difteri dapat dicegah dengan imunisasi.

“Melakukan vaksin tidak langsung membuat tubuh kebal. Perlu waktu untuk vaksin itu bekerja. Bisa mencapai waktu 3 bulan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kaltim drg Soeharsono menerangkan, kasus difteri bukan hal baru. Namun, dengan jumlah pasien di RSUD AW Sjahranie adalah acuan Samarinda sedang terancam difteri.

Dia mengatakan, ada tiga status kondisi difteri, yakni suspect, probable, dan terkonfirmasi. Suspect adalah pasien memiliki gejala-gejala klinis khas difteri yaitu ditemukannya pseudomembran (selaput putih keabu-abuan) pada tenggorokan. Kalau probable, kemungkinan status imunisasi pasien tidak lengkap, pernah berkunjung ke tempat yang terkontaminasi difteri atau kontak langsung dengan penderita difteri. Dikatakan terkonfirmasi yaitu jika sudah positif difteri dengan pemeriksaan kultur.

Di Kaltim, Balikpapan adalah daerah yang paling sering ditemukan suspect. Pasalnya, Kota Minyak adalah pintu gerbang Kaltim. Baik untuk masyarakat luar Kaltim maupun warga Kaltim yang baru selesai bepergian ke luar pulau. 

Data yang dihimpun Diskes Kaltim, tren penyakit difteri tiga tahun terakhir cukup dinamis. Pada 2015 ada 12 kasus, jumlah ini turun pada 2016 dengan 9 kasus. Kemudian kembali meroket pada 2017 dengan 25 kasus. Nah, pada 2018 hingga pertengahan Januari sudah dilaporkan 13 kasus. “Itu pun akan bertambah, karena belum ada laporan terbaru,” ujarnya. 

VAKSIN GRATIS BERTAHAP

Tersisa tiga pasien suspect dari enam orang yang diduga terkena difteri di Balikpapan. Hingga sekarang mereka masih menjalani observasi di RSUD Dr Kanujoso Djatiwibowo. Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Esther Vonny mengatakan, tiga orang yang telah diperbolehkan pulang dinyatakan negatif dari difteri.

“Semoga ketiga warga asal Muara Rapak, Batu Ampar, dan Karang Jati ini juga negatif difteri. Sehingga status kejadian luar biasa (KLB) bisa dicabut, dan penyebaran difteri tidak meluas hingga menimbulkan korban,” ujarnya. Ketiga warga yang tengah menjalani observasi berusia 9, 35, dan 39 tahun.

Dan kini DKK tengah menggiatkan outbreak response immunization (ORI), yang dilakukan di sekolah-sekolah maupun kawasan dengan kasus mikroskopis positif. Dia tidak menyebutkan lokasi-lokasi tersebut, namun vaksin dilakukan secara bertahap. Seperti halnya yang dilakukan pada Kamis (11/1) di Madrasah Tsanawiyah 1 Kelurahan Muara Rapak. Vaksinasi diberikan selama dua hari, pada hari pertama ada 125 anak dan hari kedua 75 anak.

“Imunisasi akan terus berlanjut, dalam sepekan atau dua pekan lagi. (Daerahnya) masih kita bahas, yang pasti kawasan dengan kultur difteri positif akan kami fokuskan. Hingga sekarang, vaksin telah diberikan kepada 936 orang,” sebut Vonny. “Vaksin diberikan oleh pemerintah, gratis. Tidak ada jual-beli. Jadi jangan sampai terbujuk bila ada yang menawarkan vaksin dan mesti berbayar,” imbuhnya. 

Terkait adanya isu penderita difteri di Samarinda setelah berenang, Vonny menampik. Menurut dia, difteri tidak hidup di dalam air yang memiliki kandungan kaporit seperti kolam renang. Pemicu difteri ialah bakteri Corynebacterium diphtheria, yang ditularkan melalui udara. Para penderitanya dapat mudah terjangkit apabila tidak memiliki daya kekebalan tubuh (imun) yang baik. Terlebih bila tak pernah terkena matahari.

Untuk itu, perlu dipahami bahwa gejala difteri tak ubahnya demam. Penderita akan merasakan nyeri saat menelan, pembesaran kelenjar getah bening di leher, adanya selaput kelabu yang tebal menutupi tenggorokan dan amandel. Bersamaan itu, dia akan mengalami kesulitan bernapas, demam tinggi, dan menggigil. Maka, selain menggunakan masker, masyarakat diharapkan menjaga kebersihan lingkungan maupun diri pribadi.

“Penularannya melalui batuk, bersin, ataupun kontak dengan tisu yang telah digunakan penderita. Bakteri tersebut bisa saja mati bila terkena sinar matahari, tapi kan orang sangat jarang berada di luar rumah kalau tidak ada keperluan,” ucapnya. (*/lil/*/yuv*/fch/dwi/k8)

 



Source link