Beranda Health Prevalensi Kematian Ibu Melahirkan di Indonesia Tinggi, Kemenkes Beberkan 3 Faktor Penyebab...

Prevalensi Kematian Ibu Melahirkan di Indonesia Tinggi, Kemenkes Beberkan 3 Faktor Penyebab Utamanya : Okezone Lifestyle

32
0
BERBAGI




KEMENTERIAN kesehatan RI ungkap data terbaru mengenai angka kematian ibu melahirkan. Dari data tersebut tercatat bahwa kasus ini masih tinggi dengan angka kasus di 2014 mencapai 5.048 kasus. Kemudian, pada 2015 angkanya menjadi 897 kasus, dan di tahun kemarin ada 4.834 kasus.

Hal ini tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya, pada 2013, hampir 800 wanita meninggal setiap hari akibat hal yang berkaitan dengan kehamilan dan melahirkan. Dari angka tersebut, 99% kematian terjadi di negara berkembang, salah satunya Indonesia.

BACA JUGA:

Kasus ini tentunya harus disikapi dengan baik. Tidak bisa lagi menganggap kehamilan dan persalinan adalah sesuatu yang “lewat begitu saja” peran ibu dalam menjaga dirinya pun anak yang dikandungnya menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan. Peran ayah pun diperlukan untuk tetap memberikan support pada si ibu.

Tapi, yang mesti diperhatikan lainnya adalah pemahaman mengenai penyebab utama kasus ini. Menurut Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI Dr Eni Gustina, MPH, ada 3 faktor utama yang menjadi penyebab kasus ini masih tinggi di Indonesia.

Yang pertama adalah keracunan kehamilan, pendarahan, dan infeksi. “3 faktor ini menjadi penyumbang terbesar dari kasus kematian ibu melahirkan di Indonesia dan masih banyak ibu yang belum terlalu memerhatikan hal tersebut,” terangnya pada awak media dalam acara Forum Diskusi Philips: Jaga Kehamilan untuk Generasi yang Lebih Sehat” di Gedung Chubb Square, Jakarta Pusat, Kamis (14/12/2017).

Dalam paparan Dr Eni, dia coba menjelaskan lebih rinci mengenai 3 faktor tersebut. Okezone coba merangkum pembahasannya, sebagai berikut:

Keracunan kehamilan

Mungkin di pikiran Anda, ini semacam keracunan makanan. Padahal, faktor masalah ini bersumber pada kehamilan itu sendiri. Jadi, maksudnya adalah stress yang mungkin Anda derita, itu akan menjadi racun bagi kehamilan Anda sendiri. Bahasa lebih mudahnya, kasus ini sama dengan toxic stress.

Perlu Anda ketahui, itu kenapa saat trimester pertama, ibu hamil dilarang untuk mengonsumsi obat sembarang. Sebab, hal tersebut akan sangat berbahaya bagi kesehatan si ibu maupun janin yang dia kandung.

Kemudian, masalah hipertensi juga bisa menjadi penyebab kasus keracunan kehamilan ini. Pada beberapa kasus, ketika si ibu hamil tensinya tinggi, itu bisa sampai membuat si ibu kejang-kejang. Kalau sudah mengalami kondisi ini, risiko kematian pun menjadi sangat tinggi.

Pendarahan

Ada dua momen saat si ibu dikatakan pendarahan. Yang pertama kasus pendarahan saat proses persalinan dan yang satunya saat nipas. Untuk kasus di momen pertama, ada banyak faktor yang membuat si ibu pendarahan saat proses persalinan. Salah satunya adalah kantung Rahim yang belum cukup kuat atau karena adanya kondisi tidak normal pada pembuluh darah di tubuh si ibu yang akhirnya membuat dia mengeluarkan darah cukup banyak saat melahirkan.

Untuk kondisi pasca melahirkan, biasanya ini terjadi karena tidak adanya control lanjutan yang dilakukan si ibu setelah dia melahirkan. “Makanya, jangan langsung seneng aja kalau sudah melahirkan. Proses itu belum selesai dan seorang ibu harus tetap memeriksakan kondisi tubuhnya sampai dinyatakan kembali sehat pasca melahirkan,” papar Dr Eni.

 BACA JUGA:

Infeksi

Jangan salah kaprah. Infeksi di sini bukan berarti luka akibat persalinan. Tetapi, kondisi kesehatan di mana tubuh mengalami gejala penyakit yang disebabkan oleh kuman atau virus penyakit. Di mana, sumber masalah tersebut yang akhirnya menurunkan system imun si ibu dan membahayakan janin yang dia kandung.

Beberapa masalah infeksi ini seperti rubella, TBC, atau juga hepatitis. Yang perlu Anda ketahui, kalau seorang ibu hamil sudah mengalami masalah infeksi saat kehamilannya, risiko paling parah adalah si ibu tidak akan pernah bisa lepas dari masalah itu. Jadi, siklusnya akan berputar di jalur yang sama. Si ibu akan terserang infeksi, tubuhnya akan mengalami mal nutrisi. Kondisi gizi mulai membaik, serangan sumber penyakit akan mudah datang dan siap merusak tubuh si ibu dan kondisi janin lagi. Terus seperti itu.

(dno)



Source link