Home Entertainment Kreativitas Eross yang Tak Pernah Gembos

Kreativitas Eross yang Tak Pernah Gembos

4
0
SHARE


Kaget juga saat mendengar grup musik Sheila On 7 ngehits lagi dari seorang kawan. Maklumlah, band ini dalam khasanah permusikan Indonesia tergolong band “tua”yang lahir di akhir tahun 90an dan mulai booming di awal 2000.

Saya pun bertanya kepada kawan saya itu, penyebab ngehitnya grup Sheila. Maka kawan saya pun bercerita, betapa Sheila sejak muncul sampai sekarang senantiasa “hadir”menyapa penggemarnya, terutama melalui panggung-panggung hiburan. Jika hari ini Sheila on 7 meledak kembali, itu semua adalah buah dari ketahanan stamina mereka di panggung musik Indonesia.

Saya pribadi selama ini mengagumi karya-karya musisi Eross Candra (gitar dan pencipta lagu utama Sheila on 7) melalui lagu-lagu ciptaannya yang dibawakan oleh Sheila on 7. Menyimak lagu-lagu Sheila, kita seperti sedang membaca perjalanan panjang pergulatan Eross dengan bunyi yang dia serap dari beberapa band/musisi dunia seperti Oasis, U2, Bon Jovi, Guns N’ Roses, dan kemudian menjadi kekayaan estetis yang menghasilkan komposisi dengan harmoni serta tema yang khas milik Eross.

Melalui tema-tema yang diangkat, Eross saya kira mengikuti jejak U2 yang sangat kental dengan tema-tema manusia. Sementara dari Oasis, Eross menyerap keterampilan membuat aransemen yang efektif dengan instrumen yang dibutuhkan. Dari Bon Jovi dan Gun’s Roses, Eross mendapat spirit raungan melodi metal. Kendati menyerap spirit band-band tersebut, tidak menjadikan Eross sebagai pengekor. Eross tetap tumbuh dengan kepribadian musiknya yang orisinal dan unik. Kekayaan menyerap berbagai ilmu dari beberapa kelompok band dunia itulah yang saya kira membuatnya seperti memiliki bank data yang berlimpah dan tak akan pernah habis dieksplorasi.

Nyanyian Sheila on 7 adalah sekumpulan pengalaman batin Eross mengenai cinta anak remaja, perselingkuhan, masa depan, bayangan di hari tua, masa kanak-kanak, petualangan dan lain-lain yang dikemas dalam musik pop ballad yang romantik. Sebuah pilihan tema  yang akan aktual sepanjang zaman. Selebihnya, adalah urusan stamina pembawanya. Dan Sheila on 7 adalah jenis kelompok musik yang memiliki daya tahan kuat, sehingga mereka masih eksis hingga hari ini.

Wikipedia mencatat, kelahiran Yogyakarta, 3 Juli 1979, ini besar di keluarga pecinta musik. Ibunya seorang penyanyi, kakeknya pemain saksofon, dan pamannya mahir main gitar. Sejak SD, Eross telah mengenal dunia musik karena sering mendampingi ibunya yang latihan band di studio musik di rumahnya, Karangkajen, Yogyakarta. Eross sangat tertarik dengan alat musik gitar dan mempelajarinya. Gitar pertama dimiliki oleh Eross saat berusia 14 tahun sebagai kado ulang tahun dari ayahnya. Saat kelas 3 SMP, Eross pernah ikut sebuah band, namun tak bertahan lama karena salah satu personelnya pindah kota.

Kelas 1 SMA menjadi saat yang bersejarah bagi Eross. Eross diajak bergabung dengan Dizzy band, bersama dengan Icha dan Adhit Jikustik. Eross menjadi satu-satunya anggota yang masih SMA, yang lain telah kuliah. Sang kakek juga menghadiahkan sebuah gitar listrik yang menjadi gitar listrik pertamanya. Pada tahun yang sama, Eross berkenalan dengan Sakti dan Anton dari saudaranya, Oscar. Dari Sakti, Eross kenal dengan Adam, lalu Duta.

Dan akhirnya terbentuklah Sheila Gank pada tanggal 6 Mei 1996 di rumah Adam. Sheila Gank pernah mengikuti Festival Band DIY di Yogyakarta dan mendapat juara pertama. Eross menjadi The Best Guitarist dan Adam menjadi The Best Bassist. Tahun 1998, Sheila Gank mendapat kesempatan untuk menawarkan demo lagu mereka ke Sony Music Indonesia. Akhirnya mereka dikontrak. Nama band mereka diubah menjadi Sheila on 7. “Sheila” yang diambil dari bahasa Celtic yang berarti musikal dan “on 7”, yang diambil dari tujuh tangga nada dalam musik. Tak dinyana album perdana mereka langsung meledak di pasaran. Begitu pun dengan album mereka selanjutnya.

Eross menjadi pencipta lagu paling aktif dalam grup band ini. Tak hanya untuk konsumsi grup band-nya, Eross juga menciptakan lagu untuk Memes, Rio Febrian, dan juga Tasya, serta untuk sountrack film “30 Hari Mencari Cinta” dan “Soe Hok Gie”.

Seperti yang saya duga, Eross adalah figur yang sudah sejak usia dini meyakini pilihannya dalam hidup. Musik itulah pilihan yang ditekuni dan dijalaninya hingga kini, dan memengaruhi kawan-kawannya untuk juga bersetia di ladang musik. Sehingga Sheila on 7 awet hingga kini.  Bahkan vokalis Duta merasa perlu berterima kasih kepada Eross. Sebab, Erosslah yang akhirnya membuat dirinya yakin menjalani kehidupan bersama Sheila on 7.

“Saya yakin karena saya tahu ngeband dengan orang seperti dia (Eross) yang punya komitmen sangat tinggi terhadap apa yang dia lakukan. Akhirnya, sampai hari ini kami bisa berdiri di sini,” kata Duta yang langsung disambut pelukan Eross. (http://entertainment.kompas.com/read/2017/08/29/085358410/eross-pengaruhi-duta-sheila-on-7-tinggalkan-bangku-kuliah)

Sebetulnya apa rahasia penciptaan Eross atas lagu-lagunya? Begini dia bilang, “Kadang susah kadang gampang. Nggak ada harinya,  nggak ada rumusnya. Pokoknya saya sebagai penulis lagu dari umur 17 tahun sampai hari ini, kalau sudah buntu ya buntu. Ada lagu yang 15 menit jadi. Ada yang sudah dua tahun nggak jadi-jadi.”

Tapi yang pasti, Eross adalah pencatat peristiwa yang baik melalui lagu-lagunya. Bila pada 2006, Sheila On 7 berbicara tentang radio dengan lagu “Radio”, kini mereka menjadikan film sebagai inspirasi lagu. Pencipta lagu “Film Favorit”, Eross Candra menjelaskan alasannya memilih film sebagai tema single tersebut.

“Karena memang dari pertama kami memang musiknya bukan musik yang egois, jadi gimana caranya sebanyak mungkin orang bisa merasakan apa yang kami mainkan, dari lirik, musik,” kata Eross dalam program Selebrasi, Selebritas Beraksi, yang digelar Kompas.com Entertainment di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (30/1/2018).

“Film Favorit” juga menjadi karya pertama bagi Sheila On 7 yang dilepas secara independen di bawah bendera mereka sendiri, 507 Records, setelah hampir dua dekade di major label.



Source link